Membawaanak di bawah batas umur yang telah ditentukan untuk menonton bisa menimbulkan dampak psikologis yang negatif,” tulis Joko Anwar. 3. Bisa Mengganggu Penonton Lain Esok Haul Datu Kelampayan ke-216 di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin Terbuka Untuk Umum. TINGGALKAN KOMENTAR Batal membalas. Komentar: Silakan masukkan Bahkan keduanya dikisahkan ‘baangkatan dangsanak’ (bersaudara angkat). Disusul dengan diserahkannya sebuah kitab, oleh Datuk Sanggul kepada Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Ulama fenomenal Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang biasa dikenal dengan nama Datuk Kelampayan, itu lahir pada tahun 1710 dan wafat pada tahun 1812 masehi. Diamendapat julukan anumerta Datu Kelampaian. Dia adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara. [5] Daftar isi [ sembunyikan ] 1 Silsilah keturunan 2 Riwayat 2.1 Masa kecil 2.2 Menikah dan menuntut ilmu di Mekkah 2.3 Menikahkan anak 2.4 Membetulkan arah kiblat masjid Salahsatunya adalah serat Silsilah Sunan Kalijaga yang ditulis oleh Raden Ngabehi Sasranagara, seorang patih keraton Surakarta Hadiningrat pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwan IX (1830-1893). Disebutkan didalam serat tersebut bahwa silsilah Sunan Kalijaga itu bersambung hingga Sayyidina Abbas r.a., berikut hasil transkripnya: Padapertengahan 1960, Sahal belajar ke Mekkah, di bawah asuhan Syaikh Yasin al-Fadani. Tak mengherankan jika Kiai Sahal kemudian menjadi jawara fikih dalam usia muda. “Ketika usianya belum nencapai 40 tahun, ia telah menunjukkan kemampuan tinggi dalam forum-forum fikih,” tulis KH Abdurrahman Wahid dalam bukunya, Melawan Melalui Lelucon. SilsilahSunan Gunung Jati ke bawah, terhubung ke Kesultanan Cirebon mulai dari Pangeran Adipati Pasarean. Lewati ke konten. 17 Juli 2022; Pencarian. Networks. Beritaradar.com; Silsilah Sunan Gunung Jati ke Bawah. Berikutnya Sayid Husen, Sayid Abidin, Sayid Muhammad Baqir, Ja’far Shadiq, Kasim Al Malik, Idris, Al Baqir, Ahmad, Badillah. Inilahkondisi rumah datu kelampayan yang kurang lebih berumur 300 tahun saat ini pada haul ke 215 datu kelampayan terletak di desa dalam pagar kota martapur MemahamiSilsilah Keluarga dan Manfaatnya. Istilah “silsilah” niscaya memberikan asosiasi kepada nama-nama raja dengan leluhur serta keturunannya. Padahal, hubungan silsilah adalah milik semua orang. Setiap orang dapat menyusun silsilahnya sendiri, misalnya mulai dari buyut – bapak kakeknya – sampai pada buyut – anak cucunya. Sasak Niki silsilah Deside Isa Almasih, keturunan Daud, keturunan Ibrahim. Bugis: Iyanaé assossorenna néné-nénéna Yésus Kristus, wijanna Daud, wijanna Abraham. Polé ri Abraham lettu ri Daud tarokii aseng-ngaseng makkuwaéwé: Yangmenulis silsilah datu kelampayan ke atas dan kebawah pertama kali adalah datuk sapat atau syekh Abdurrahkan Siddiq. Kalo org sekelas beliau berdusta ttg nasab datu kalampayan rasanya diluar aqal. ingatlah sya ahmad f bin muhammad f muhibbin Angin tingkat paling bawah dari orang kecil/ kawulo alit ini..kelakuan BerdasarkanData dari (5)poster silsilah Rabitah Azmatkhan yang disusun dari berbagai sumber, ternyata Lembu Suro adalah Ayah mertua dari Haryo Tejo (kakek Sunan Kalijaga) dari istri lain beliau. Jadi Haryo Tejo tercatat memiliki 2 istri yakni : 1. Putri Bupati Tuban (binti Haryo Dikoro) Beliauhidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian. Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara. [2] Silsilah keturunan Tigatahun lamanya ia menggali ilmu dari ulama-ulama Mekkah. Setelah merasa bekal ilmunya cukup, segeralah ia kembali ke tanah air. Ia lalu mengajar dipesantren ayahnya. Namun, kondisi tanah air agaknya tidak menguntungkan pengembangan ilmunya. Saat itu, hampir semua ulama Islam mendapat tekanan dari penjajah Belanda. Kebanyakanmereka belajar di Darussalam atau Ibn al-Amin, lalu kemudian melanjutkan ke Pesantren Datu Kelampayan, Bangil. Ada pula di antara mereka yang studi di Pondok Modern Gontor (Ponorogo), atau di al-Syafi‟yah (Jakarta), dan lain-lain. Secara silsilah nasab, beliau termasuk keturunan dari ulama paling terkemuka di Kalimantan Selatan Tabepada saat acara pengukuhan Datu Datu pammana thn 2004 disebutkan mulai Datu Pammana yg pertama sampai Datu Pammana yg terakhir.Disebutkan Datu Pammana Taranatie Petta Mabbola Batue itu leluhur saya Kakek Buyut saya kebetulan saya punya silsilah yg ditanda tangani : 1. Andi Baharuddin - Keturunan Datu Wana & Andi BAu Ninnong. V8YI. BANJARMASIN - Nama Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau dikenal sebagai Datu Kelampayan menempati hati masyarakat Kalimantan dan Indoensia sebagai ulama besar dan pengembang ilmu pengetahuan dan agama. Belum ada tokoh yang mengalahkan kepopulerannya. Karya-karyanya hinga kini tetap dibaca orang di masjid dan disebut-sebut sebagai kitabnya Sabilal Muhtadin diabadikan untuk nama Masjid Agung Banjarmasin. Nama kitabnya yang lain Tuhfatur Raghibin juga diabadikan untuk sebuah masjid yang tak jauh dari makan Syaikh Arsyad. Tak hanya itu, hampir seluruh ulama di Banjarmasin masih memiliki tautan dengannya. Baik sebagai keturunan atau muridnya. Sebut saja nama almarhum KH Zaini Abdul Ghani, yang dikenal dengan nama Guru Sekumpul itu adalah keturunan Syekh Muhammad Arsyad. Hampir semua ulama di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Malaysia, pernah menimba ilmu dari syaikh atau dari murid-murid yang memiliki nama lengkap Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah Abu Bakar Al-Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah Syaikh bin Sayid Abdullah Al-’Aidrus bin Sayid Abu Bakar As-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman As-Saqaf bin Sayid Muhammad Maula Dawilah Al-’Aidrus. Silsilahnya kemudian sampai pada Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah. Dengan demikian Syaikh Arsyad masih memiliki darah keturunan tercatat sebagai pemimpin peperangan melawan Portugis, kemudian ikut melawan Belanda lalu melarikan diri bersama isterinya ke Lok Gabang Martapura. Dalam riwayat lain menyebut bahwa apakah Sayid Abu Bakar As-Sakran atau Sayid Abu Bakar bin Sayid `Abdullah Al-’Aidrus yang dikatakan berasal dari Palembang itu kemudian pindah ke Johor, dan lalu pindah ke Brunei Darussalam, Sabah, dan Kepulauan Sulu, yang kemudian memiliki keturunan kalangan sultan di daerah itu. Yang jelas, para sultan itu masih memiliki tali temali hubungan dengan Syekh Muhammad Arsyad yang berinduk ke Hadramaut, Yaman. Bapaknya Abdullah merupakan seorang pemuda yang dikasihi sultan Sultan Hamidullah atau Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah 1700-1734 M.Bapaknya bukan asal orang Banjar, tetapi datang dari India mengembara untuk menyebarkan Dakwah, ia seorang ahli seni ukiran kayu. Semasa ibunya hamil, kedua ibu bapaknya sering berdoa agar dapat melahirkan anak yang alim dan zuhud. Setelah lahir, orangtuanya mendidik dengan penuh kasih sayang setelah mendapat anak sulung yang dinanti-nanti ini. Beliau dididik dengan dendangan Asmaul-Husna, disamping berdoa kepada Allah. Setelah itu diberikan pendidikan Alquran kepadanya. Kemudian barulah menyusul kelahiran adik-adiknya yaitu; Abidin, Zainal abidin, Nurmein, Nurul Muhammad Arsyad lahir di Banjarmasin pada hari Kamis dinihari, pukul waktu sahur, 15 Safar 1122 H atau 17 Maret 1710 M. BANJARBARU - Dari sekian koleksi mengenai Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, ada juga buku riwayat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Buku ini menceritakan tentang riwayat Syekh Muhammad Arsyad Albanjari sejak remaja hingga menuntut ilmu di Makkah dan Madinah sampai kembali ke tanah air, kemudian mengajarkan ilmu agama dan menjadi seorang ulama terkenal. Pada buku ini juga diceritakan tentang istri dan keturunannya. Kitab ini ditulis oleh Abdurahman Siddiq Bin Muhammad Afif Al Banjari, seorang Mufti Kerajaan Indragiri Riau Tahun 1349 H. "Kitab ini didapat dari Margasari ulu, Tapin. Nomor inventaris 6004," ucap staf seksi koleksi dan konservasi museum lambung Mangkurat, Zaelani. Baca Inilah Naskah Asli Kitab Sabilal Muhtadin, Ditaburi Cengkih Bila Disentuh Ini yang Terjadi Baca Pedangdut Cantik Ini Akui Gunakan Mistis Dayak untuk Tetap Eksis, Pakai Susuk Hingga Mandi Bungas Baca Polisi di Kapuas Ini Merangkap Dukun, Begini Cara Uniknya Sembuhkan Penyakit Kulit Warga Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau dikenal sebagai Datu Kelampayan ulama besar dan pengembang ilmu pengetahuan dan agama. Hampir seluruh ulama di Banjarmasin masih memiliki tautan dengannya. Baik sebagai keturunan atau muridnya. Sebut saja nama almarhum KH Zaini Abdul Ghani, yang dikenal dengan nama Guru Sekumpul itu adalah keturunan Syekh Muhammad Arsyad. Hampir semua ulama di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Malaysia, pernah menimba ilmu dari beliau. Baca Terungkap dari Ekspose KPK, Aliran Dana Gratifikasi Bupati Rita Widyasari Ternyata Dibelikan Ini Baca Wanita PNS Nunukan Ini Heran Dilabrak Biduan Selingkuhan Suaminya, Ternyata Minta Diizinkan Nikah Ulama ini memiliki nama lengkap Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah Abu Bakar Al-Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah Syaikh bin Sayid Abdullah Al-’Aidrus bin Sayid Abu Bakar As-Sakran bin Saiyid Abdur Rahman As-Saqaf bin Sayid Muhammad Maula Dawilah Al-’Aidrus. Silsilahnya kemudian sampai pada Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah. Beliau dilahirkan di Desa Lok Gabang, Kabupaten Banjar pada 17 Maret 1710 dan meninggal dunia di Dalam Pagar, Kabupaten Banjar pada 13 Oktober 1812. Makamnya berada di Desa Kalampayan Tengah, Kecamatan Astambul, Martapura. kurniawan USAI melakoni penelitian selama tiga tahun oleh Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin, kini buku bertulis tangan berumur ratusan tahun itu dibedah. DIALOG buku lawas milik Swadharma, warga Pekauman, Banjarmasin itu digagas oleh Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan LK3 Banjarmasin dihelat di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin, Rabu 19/10/2022. Dalam buku itu, ada tertulis silsilah Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kelampayan. Dengan alasan itu, akhirnya pemilik menyerahkan buku untuk kemudian diteliti oleh lembaga berkompeten. Ketua Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Antasari, Fathullah Munadi mengatakan dalam penelitian memang ada beberapa asumsi yang muncul, bahwa orangtua Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah seorang Tionghoa yang muallaf dalam naskah tersebut. BACA Pengusulan Pahlawan Nasional, Syekh Muhammad Arsyad Dulu, Baru Pangeran Hidayatullah “Tetapi itu perlu penguatan-penguatan dari naskah lain yang kira-kira mendekati dengan cerita ini,” ucap Fathullah Munadi. Mengapa demikian? Menurut dia, jarak penulis dengan cerita yang dituliskan itu cukup jauh, yakni terpaut lima generasi. “Jadi, kita perlu kajian baru atau naskah baru yang dihadirkan supaya kita bisa menjelaskan kembali,” kata dosen humaniora keislaman UIN Antasari ini. BACA JUGA Gelar Al Banjary dan Budaya Lokal dalam Ijtihad Syekh Muhammad Arsyad “Kalau kami di kajian naskah, tentunya akan coba mencari di mana kira-kira naskah lainnya bisa ditemukan. Biasanya, kalau naskah tunggal selalu ada sesuatu yang menginspirasinya, dia tidak akan tunggal saja,” beber Fathullah. “Karena kita tidak hidup di zaman itu, maka sangat terbuka untuk didiskusikan ketika ada temuan naskah seperti itu,” sergah Pembina LK3 Banjarmasin Nurholis Majid. Ini karena Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah seorang tokoh yang besar, wajar saja menjadi bahan diskusi, perdebatan bahkan menjadi ranah untuk saling mengklaim. BACA JUGA Berbekal Ranjang dan Cermin, Syekh Muhammad Arsyad Pinang Ratu Aminah “Sebagai masyarakat yang berpendidikan maka kita mesti membuka ruang atas temuan-temuan terkait Datu Kelampayan. Secara literasi sangat penting agar orang seperti ini terus dibicarakan, kalau kita sudah setop pada sesuatu yang sudah final maka berhentilah pembicaraan terhadap ulama besar ini,” imbuh mantan Kepala Perwakilan Ombudsman Kalsel ini. Peserta dialog saat membahas soal buku berumur ratusan tahun yang dibedah para peeliti dari UIN Antasari Banjarmasin. Foto Iman Satria Masih kata Majid, LK3 Banjarmasin melihat hal itu sangat membuka pengetahuan. Ini agar bisa keluar dari frame tentang misalnya ada era di mana orang sentimen terhadap Cina Tionghoa dan segala macamnya. “Karena pada masa itu bisa jadi ada hubungan yang kuat antara Kesultanan Banjar dengan Tiongkok,” ucap Majid. BACA JUGA Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi Dengan demikian, beber dia, kemungkinan ada pertalian, bukan saja hubungan kerja sama tapi pertalian darah yang erat pula. “Kami ingin pembicaraan ini akan terus dilanjutkan dan membuat diskusi atau seminar yang lebih besar lagi yang dihadiri tokoh-tokoh yang representatif, sehingga dipandang sebagai suatu ilmu,” papar Majid. Sementara itu, pemilik buku kuno berumur ratusan tahun itu, Swadharma mengatakan ternyata ada penulisan silsilah keluarga yang ada hubungannya dengan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. BACA JUGA Mengenal Metode Instinbath yang Digunakan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari “Tentu hal ini, menarik untuk dibahas. Tadinya buku ini hanya disimpan keluarga saja. Kemudian, jatuh ke tangan saya. Kemudian, saya berkeinginan untuk membuktikan kebenaran buku ini,” kata Swadharma. Walhasil, buku itu kemudian diserahkan guna diuji secara ilmiah. Terutama, silsilah keturunan nama-nama Tionghoa dalam buku ini tidak ada masalah. “Nah, kalau urutan nama-nama keluarga Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, sebenarnya kami tidak tahu, karena nama Tionghoa sudah tidak digunakan,” ucap Swadharma. “Yang menulis buku ini telah meninggal dunia pada tahun 1953. Umur saya sekarang 75 tahun, andaikan ayah saya yang ditulis di buku itu berumur 25 tahun saja ketika saya lahir. INi artinya buku itu sudah berumur 100 tahun,” beber Swardharma. BACA JUGA Sungai Tuan, Karya Besar Tuan Syekh Muhammad Arsyad Sekretaris Jenderal Perkumpulan Ukhuwah Angkatan Muda Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Muhammad Deny yang juga hadir dalam dialog tersebut membenarkan keterkaitan ini dengan Tionghoa. “Nenek Datu Kelampayan yang memang dari etnis Tionghoa. Semuanya masih tercatat, dan kita masih juga mencari garis keturunan yang belum tercatat,” ucap Deny. Peserta diskusi dan dialog usai acara berfoto bersama di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin. Foto Iman Satria Dirinya menilai dialog gelaran LK3 Banjarmasin sangat bagus guna mencari keterkaitan antara Datu Kalampayan dengan Tionghoa. Sepengetahuan Denny, memang dari dulu ada penyebutan nama Tionghoa, namun setelah muslim diperkirakan penyebutan itu sudah tidak dipakai lagi. BACA JUGA Islam di Nusantara Tak Lepas dari Pengaruh Ulama Banjar Syekh Arsyad Al Banjari “Semoga saja naskah lainnya bisa ditemukan lagi. Karena dalam naskah yang ada ini terputus di Datu Abdullah, ayah dari Datu Kelampayan dengan nama Tionghoa Pang Ban Tian, lalu diisi dengan nama anak bertuliskan Muhammad Rasyad yakni Datu Kelampayan, turun lagi ke bawah yakni Datu Jamaludin,” tutur Denny. Dia mengajak untuk menggali lebih dalam lagi keterikatan silsilah Datu Kelampayan dengan etnis Tionghoa. BACA JUGA Ersis Sebut Muhammad Arsyad Al-Banjari Datu Literasi Banjar dan Nasional’ Sementara itu, Pengasuh Majelis Al Mahabbah Kubah Basirih, Habib Fathurrahman Bahasyim mengaku dialog itu sangat fenomenal. Sebab, banyak hal yang perlu digali dan didalami oleh para peneliti. “Semua pihak yang punya wewenang harus turut menggali hal ini, bahkan pemerintah harusnya turun tangan untuk memfasilitasi tindak lanjut dari penemuan naskah ini. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat,” imbuh Habib Fathur.jejakrekam Pencarian populerhttps//jejakrekam com/2022/10/19/bedah-buku-berumur-ratusan-tahun-ternyata-ada-silsilah-syekh-muhammad-arsyad-al-banjari/,nasab datu kelampayan Dalam Keluarga Jawa, biasanya anak menyebut orang tuanya dengan sebutan Bapak dan Ibu. Orang tuanya Bapak dan ibu disebut Eyang Kakek/Nenek dlm bhs Indonesia. Orang tua Eyang disebut apa..? Dst., dst., dst. Sejauh ini sepengetahuan saya keturunan H. Hambali dari H. Agus Saleh Jatibarang baru sampai urutan ke 8 yaitu H. Hambali H. Umar Simun Anak H. Abdul Kohar Cucu/Putu H. Agus Saleh Buyut/cicit Tuslihah canggah Siti Saeriyah wareng Adimah udhek-udhek Mayliana Peppy Saragih gantung siwur Kim kenny Aurelia Gropak senthe Berikut adalah istilah untuk level keturunan ke bawah dan level leluhur ke atas sampai urutan ke-18 dalam Bahasa Jawa *URUTAN KE ATAS * Moyang ke-18. Eyang Trah Tumerah Moyang ke-17. Eyang Menyo -menyo Moyang ke-16. Eyang Menyaman Moyang ke-15. Eyang Ampleng Moyang ke-14. Eyang Cumpleng Moyang ke-13. Eyang Giyeng Moyang ke-12. Eyang Cendheng Moyang ke-11. Eyang Gropak Waton Moyang ke-10. Eyang Galih Asem Moyang ke-9. Eyang Debog Bosok Moyang ke-8. Eyang Gropak Senthe Moyang ke-7. Eyang Gantung Siwur Moyang ke-6. Eyang Udheg-udheg Moyang ke-5. Eyang Wareng Moyang ke-4. Eyang Canggah Moyang ke-3. Eyang Buyut Moyang ke-2. Eyang kakek/nenek dlm bhs Indonesia Moyang ke-1. Bapak/Ibu *DILIHAT DARI POSISI KITA * Urutan Kebawah. Keturunan ke-1. Anak Keturunan ke-2. Putu, Keturunan ke-3. Buyut. Keturunan ke-4. Canggah Keturunan ke-5. Wareng Keturunan ke-6. Udhek-udhek Keturunan ke-7. Gantung siwur Keturunan ke-8. Gropak Senthe Keturunan ke-9. Debog Bosok Keturunan ke-10. Galih Asem Keturunan ke-11. Gropak waton Keturunan ke-12. Cendheng Keturunan ke-13. Giyeng Keturunan ke-14. Cumpleng Keturunan ke-15. Ampleng Keturunan ke-16. Menyaman Keturunan ke-17. Menyo2. Keturunan ke-18. Tumerah. Silahkan disimpan…….. — dikirim dari Smartphone OPPO saya Dalam Keluarga Jawa, biasanya anak menyebut orang tuanya dengan sebutan Bapak dan Ibu. Orang tuanya Bapak dan ibu disebut Eyang Kakek/Nenek dlm bhs Indonesia. Orang tua Eyang disebut apa..? Dst., dst., dst. Berikut adalah istilah untuk level keturunan ke bawah dan level leluhur ke atas sampai urutan ke-18 dalam Bahasa Jawa *URUTAN KE ATAS * Moyang ke-18. Eyang Trah Tumerah Moyang ke-17. Eyang Menyo -menyo Moyang ke-16. Eyang Menyaman Moyang ke-15. Eyang Ampleng Moyang ke-14. Eyang Cumpleng Moyang ke-13. Eyang Giyeng Moyang ke-12. Eyang Cendheng Moyang ke-11. Eyang Gropak Waton Moyang ke-10. Eyang Galih Asem Moyang ke-9. Eyang Debog Bosok Moyang ke-8. Eyang Gropak Senthe Moyang ke-7. Eyang Gantung Siwur Moyang ke-6. Eyang Udheg-udheg Moyang ke-5. Eyang Wareng Moyang ke-4. Eyang Canggah Moyang ke-3. Eyang Buyut Moyang ke-2. Eyang kakek/nenek dlm bhs Indonesia Moyang ke-1. Bapak/Ibu *DILIHAT DARI POSISI KITA * Urutan Kebawah. Keturunan ke-1. Anak Keturunan ke-2. Putu, Keturunan ke-3. Buyut. Keturunan ke-4. Canggah Keturunan ke-5. Wareng Keturunan ke-6. Udhek-udhek Keturunan ke-7. Gantung siwur Keturunan ke-8. Gropak Senthe Keturunan ke-9. Debog Bosok Keturunan ke-10. Galih Asem Keturunan ke-11. Gropak waton Keturunan ke-12. Cendheng Keturunan ke-13. Giyeng Keturunan ke-14. Cumpleng Keturunan ke-15. Ampleng Keturunan ke-16. Menyaman Keturunan ke-17. Menyo2. Keturunan ke-18. Tumerah. Silahkan disimpan…….. Post navigation

silsilah datu kelampayan ke bawah